ANEKA RAGAM KLIEN

ANEKA RAGAM KLIEN

ANEKA RAGAM KLIEN

  1. Klien Suka Rela

Klien suka rela datang kepada konselor atas keinginan sendiri untuk memperoleh informasi atau mencari pemecahan masalah. Secara umum dapat dikenali ciri-ciri klien suka rela sebagai berikut :

  1. Hadir atas kehendak sendiri
  2. Segera dapat menyesuaikan diri dengan konselor
  3. Mudah terbuka, seperti segera mengatakan persoalan
  4. Sungguh-sungguh mengikuti proses konseling
  5. Berusaha meengemukakan sesuatu dengan jelas
  6. Sikap bersahabat mengarapkan bantuan
  7. bersedia mengungkap rahasia walaupun menyakitkan

konselor harus dapat mempelajari kliennya dan tidak dibenarkan untuk berbicara terus menerus dan mendominasi topik pembicaraan berakibat klien suka rela kecewa dan drop out.

  1. Klien Terpaksa

Klien yang datang kepada konselor bukan karena keinginannya sendiri tapi atas dorongan orang lain. Klien terpaksa memiliki karakteristik sebagai berikut :

  1. Besifat tertutup
  2. Enggan berbicara
  3. Curiga terhadap konselor
  4. Kurang bersahabat
  5. menolak secara halus bantuan konselor

strategi yang digunakan untuk menghadapi klien terpaksa adalah mencoba menjelaskan dengan bijak apa yang dimaksud dengan proses konseling yang akan dilakukan.

  1. Klien Enggan

Salah satu bentuk klien enggan adalah klien yang banyak berbicara, pada prinsipnya enggan untuk dibantu. Hanya senang berbicara dengan konselor tanpa penyelesaian masalah, atau klien yang diam saja. Upaya yang dilakukan untuk menghadapi klien semacam ini adalah :

  1. Menyadarkan akan kekeliruannya
  2. memberi kesempatan agar dia dibimbing orang lain atau mencari lawan bicara yang lain.
  1. Klien Bermusuhan / Menentang

Klien terpaksa dan bermasalah dapat menjadi klien yang menentang sifat-sifatnya adalah : (1) Tertutup; (2) Menentang; (3) Bermusuhan; (4) Menolak secara terbuka. Klien terpaksa harus diperlakukan ramah, perlakukan sebaik mungkin tapi tegas dan negosiasi.

Cara-cara efektif menghadapi klien semacam ini adalah :

  1. Ramah, bersahabat, dan empati
  2. Toleransi terhadap perilaku klien yang nampak
  3. Tingkatkan kesabaran menanti saat yang tepat untuk berbicara sesuai bahasa tubuh klien
  4. Memahami keinginan klien yaitu tidak sudi dibimbing
  5. Membuat bentuk negosiasi, kontrak waktu dan penjelasan tentang konseling.

Sumber : https://aziritt.net/