Bertemunya dua khitan (kemaluan) walaupun tidak keluar mani

Bertemunya dua khitan (kemaluan) walaupun tidak keluar mani

Bertemunya dua khitan (kemaluan) walaupun tidak keluar mani

Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang duduk antara empat bagiannya (tubuh perempuan) kemudian ia bersungguh-sungguh maka telah
wajib atasnya mandi. Dan salah satu riwayat dalam Shohih Muslim “walaupun tidak keluar”. (HSR. Bukhary-Muslim) Kata Imam An-Nawawy dalam Syarh Shohih Muslim 4/40-41 :
Makna hadits ini bahwasanya wajibnya mandi tidak terbatas hanya pada keluarnya mani, tetapi kapan tenggelam kemaluan laki-laki dalam kemaluan wanita maka wajib atas keduanya untuk mandi.

3. Perempuan yang usai mengalami Haid dan Nifas.

Berdasarkan hadits dari ‘Aisyah tatkala Nabi berkata kepada Fatimah binti Abi Hubeisy: “Jika waktu haid datang maka tinggalkanlah sholat dan jika telah selesai maka mandilah dan sholatlah”. (HR. Bukhary-Muslim). Kata Imam An-Nawawy : Ulama telah sepakat tentang wajibnya mandi karena sebab haid dan sebab nifas dan di antara yang menukil ijma’ pada keduanya adalah Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir dan selainnya (Majmu’ 2/168).
4. Orang kafir yang masuk Islam.
Diantara dalilnya adalah hadits Qois bin A’shim : “Saya mendatangi Nabi untuk masuk Islam maka Nabi memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara”. (HR. Ahmad 5/61 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).
5. Meninggal (Mati).
Maksudnya wajib bagi orang yang hidup untuk memandikan orang yang meninggal. Berdasarkan hadits Ibnu Abbas tentang orang yang jatuh dari ontanya dan meninggal, Nabi bersabda: “Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara dan kafanilah dengan dua baju”. (HR. Bukhary-Muslim)
6. Mandi bagi yang mendatangi Sholat Jum’at.
Mandi Jum’at adalah wajib, berdosa bagi yang meninggalkannya berdasarkan pendapat yang terkuat dari para shahabat; (Abu Hurairah, Ammar bin Yaasir, Abu Sa’id Al-Khudry) dan tabi’in seperti Al- Hasan Al-Basry dan dari para ulama madzhab; Imam Malik (salah satu riwayat), Imam Ahmad, dan Ibnu Hazm. Adapun dalil-dalilnya:
a.      Hadits Abu Said Al-Khudry , Rasulullah bersabda: “Mandi pada hari jum’at adalah wajib atas setiap yang telah bermimpi”. (HR. Bukhary-Muslim)
b.      Hadits Abu Hurairah , “Wajib atas setiap muslim untuk mandi pada setiap pekan sehari –yaitu hari jum’at- yaitu dia menyiram kepala dan seluruh jasadnya”. (HR. Bukhary- Muslim)
c.       Hadits Ibnu Umar ,“Barangsiapa yang mendatangi sholat jum’at maka hendaklah dia mandi”. (HR. Bukhary- Muslim)
 HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN UNTUK MANDI
1. Mandi untuk i’dain (Idul Fitri dan Adha).
2. Mandi setelah sadar dari pingsan (ijma’).
3. Mandi untuk ihram haji dan umroh.
4. Mandi bagi yang memasuki Kota Mekkah.
5. Mandi diantara setiap jima’ (senggama) yang berbilang.
6. Mandi bagi wanita yang mengalami istihadhah (keluarnya darah
penyakit -bukan haidh-).
TATA CARA MANDI BESAR / TATA CARA MANDI JUNUB TERBAGI ATAS 2 CARA :
1. Cara yang sempurna/yang terpilih.
2. Cara yang mujzi` (yang mencukupi/memadai)
(Lihat Al-Mughny :1/287, Al-Majmu’ : 2/209, Al-Muhalla: 2/28,dan lain-lain.)
Kata Syeikh Ibnu Utsaimin : batasan antara cara yang sempurna dengan yang cukup adalah apa-apa yang mencakup wajib maka itu sifat cukup, dan apa-apa yang mencakup wajib dan sunnah maka itu sifat sempurna. (Lihat As-Syarh Al-Mumti’:1/414).
  1. Mandi yang sempurna.
Yang menjadi pokok pendalilan sifat atau tata cara mandi junub yang sempurna ada dua hadits, yaitu hadits Aisyah dan hadits Maimunah .