BIMBINGAN SEKS BAGI REMAJA TUNAGRAHITABIMBINGAN SEKS BAGI REMAJA TUNAGRAHITA

BIMBINGAN SEKS BAGI REMAJA TUNAGRAHITA

BIMBINGAN SEKS BAGI REMAJA TUNAGRAHITABIMBINGAN SEKS BAGI REMAJA TUNAGRAHITA

BIMBINGAN SEKS BAGI REMAJA TUNAGRAHITA

Penelitian ini dilatarbelakangi adanya masalah yang dihadapi oleh remaja tunagrahita dalam hal seksual, yaitu mereka belum mengerti saat memasuki usia remaja baik perkembangan fisik maupun perkembangan emosi, suka melakukan masturbasi di depan guru atau teman sekelas, tidak bisa menjaga kebersihan saat menstruasi, mudah tergoda dengan orang asing yang baru dikenal, tidak bisa menjaga kesehatan pribadi, pacaran yang berlebihan (over acting). Fenomena yang terjadi di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung menunjukkan bahwa bimbingan seks belum dilaksanakan secara optimal, sehingga kebutuhan remaja tunagarahita belum terpenuhi. Kondisi ini menggambarkan bahwa bimbingan seks belum mengakomodasi kebutuhan siswa. Kalau tidak tertangani maka akan menggangu tampilan potensi pada remaja tunagrahita.
Berdasarkan kenyataan tersebut, penelitian ini bertujuan merumuskan program bimbingan seks bagi remaja tunagrahita untuk dapat memfasilitasi kebutuhan siswa tunagrahita. Untuk mencapai tujuan tersebut, ditempuh prosedur penelitian sebagai berikut (a) mengindentifikasi kebutuhan siswa, memotret layanan bimbingan seks di sekolah, serta mengumpulkan data tentang faktor pendukung dan penghambat dalam layanan bimbingan seks (b) merumuskan program hipotetik bimbingan seks berdasarkan kajian teoritis dan kondisi objektif di lapangan (c) melakukan validasi program melalui seminar dan lokakarya yang diikuti oleh kepala sekolah, guru dan orang tua (d) merevisi program berdasarkan hasil seminar dan lokakarya untuk merumuskan program hasil validasi bimbingan seks di SLB-C YPLB Cipaganti Bandung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bimbingan seks belum mengakomodasi kebutuhan siswa (2) ada sepuluh kebutuhan siswa tunagrahita yaitu perubahan fisik saat memasuki usia remaja, pengetahuan tentang mimpi basah, pengetahuan tentang masturbasi, pengetahuan tentang menstruasi, tata cara pacaran, norma pergaulan pria dan wanita, kesehatan pribadi, tata cara berbicara yang benar, menghindari diri dari pelecehan seksual, pernikahan. (3) faktor pendukung yaitu pandangan positif dari kepala sekolah dan guru kelas. Sedangkan faktor penghambat meliputi iklim sekolah yang tidak kondusif, minimnya fasilitas dan administrasi, pendidikan, kemampuan guru dalam bimbingan masih kurang, karakteristik siswa. (4) rumusan program bimbingan seks meliputi: dasar pemikiran, visi dan misi layanan bimbingan seks, maksud dan tujuan, bidang isi dan ruang lingkup bimbingan. Penelitian tersebut direkomendasikan kepada kepala sekolah, guru kelas, yayasan, dan orang tua.

Sumber : https://furnituremebeljepara.co.id/