Dana Abadi Pendidikan Bakal Naik Bertahap

Dana abadi di empat sektor direncanakan akan naik terus secara bertahap sekitar lima tahun ke depan.

Empat sektor tersebut antara beda dana abadi kebudayaan, penelitian, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dan dana abadi perguruan tinggi. Rencana ini diinginkan dapat menambah kualitas sumber daya insan (SDM) Indonesia ke depan.

Deputi II Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Yanuar Nugroho menyebut, dana abadi LPDP dalam lima tahun mendatang dapat menjangkau Rp100 triliun. Menurutnya, LPDP patut dikembangkan sebab dengan dana tersebut tidak sedikit anak-anak Indonesia bisa melanjutkan edukasi S-2 dan S-3.

“Meneruskan LPDP, dana abadi pendidikan. Ini bakal ditingkatkan. Sekarang Rp60 triliun anda punya. Itu akan dinaikkan sampai Rp100 triliun dalam lima tahun ke depan,” katanya di kantor KSP, Jakarta, kemarin.

Lalu guna sektor penelitian, Yanuar menuliskan bahwa ketika ini telah diperhitungkan dana sebesar Rp1 triliun. Dia menyinggung ada bisa jadi dana abadi di sektor riset tersebut akan dinaikkan lima puluh kali lipat dari jumlah ketika ini.

“Dimulai dari Rp1 triliun yang telah disiapkan pada tahun perkiraan ini sebetulnya. (Ini) yang akan dikerjakan teman-teman Kemenristek-Dikti, dan masih dipikirkan bareng bagaimana pengelolaannya. Tapi dana abadi riset atau penelitian ini pun akan bertambah sampai Rp50 triliun sekitar lima tahun ke depan pada 2024,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan dari Yanuar, guna dana abadi perguruan tinggi bakal mulai diperhitungkan sebesar Rp10 triliun, dan bakal naik menjadi Rp50 triliun.

Dana abadi ini guna mendorong universitas di Indonesia dapat berlomba masuk 500 besar dunia. “Jadi, tidak melulu jago kandang, namun pun masuk ke liga internasional. Saat ini terdapat tiga kampus yang masuk 500 besar, yaitu UI, ITB, dan UGM.

Ide dana abadi ini guna memperkuat perguruan tinggi itu supaya tidak memakai mekanisme finansial yang kaku,” tuturnya. Yanuar mengatakan, dengan pengelolaan dana abadi ini, hasilnya dapat dipakai perguruan tinggi untuk menambah kinerja akademika kampus.

Mulai publikasi, riset, sampai peningkatan SDM dosen. “Kalau guna mahasiswa, pemerintah telah alokasikan banyak. Yang tidak dapat bayar terdapat beasiswa Bidikmisi. Keterima perguruan tinggi dan kurang mampu pasti bisa Bidikmisi.

Lalu terdapat afirmasi pendidikan, dari 3T (tertinggal, terluar, terdepan), dan Papua. (Beasiswa) PPA untuk penambahan prestasi akademik,” katanya. Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid mengatakan, dana abadi guna sektor kebudayaan diperhitungkan sebesar Rp5 triliun tahun ini.

Menurutnya, dengan pengelolaan ini bakal menghasilkan bunga 6% pada 2021 men datang. “Jadi 2019 dianggarkan, 2020 masuk dalam APBN, hasilnya dapat digunakan 2021,” ujarnya. Dia menuliskan adanya dana abadi ini guna mempermudah pekerjaan kebudayaan.

Pasalnya, sekitar ini pekerjaan kebudayaan bergantung untuk APBN yang pada ketika yang sama mekanisme APBN tidaklah fleksibel. “Kami sedang berkomunikasi dengan Kemenkeu, nanti bentuknya (pengelolaannya) laksana BLU. Kelembagaannya serupa LPDP, kemudian konsentrasi tentu pada pekerjaan yang sekitar ini susah dibiayai,” pungkasnya. Sumber : pelajaran.co.id