GEOPOLITIK & GEOSTRATEGI SINGAPURA

GEOPOLITIK & GEOSTRATEGI SINGAPURA

GEOPOLITIK & GEOSTRATEGI SINGAPURA

GEOPOLITIK & GEOSTRATEGI SINGAPURA

GEOPOLITIK SINGAPURA

Republik Singapura adalah sebuah negara kota di Asia Tenggara yang terletak di penghujung Semenanjung Malaysia, berbatasan dengan Johor (Malaysia) dan Kepulauan Riau (Indonesia). Republik Singapura terletak 137 kilometers dari jalur khatulistiwa. Pada awalnya pulau Singapura merupakan kampung nelayan yang dihuni oleh suku Melayu atau Bumiputra. Singapura, sebuah negara pulau sebesar 692.7 km²
Singapura terhubung kepada Johor melalui sebuah causeway (jembatan buatan) di Woodlands. Singapura juga mempunyai sebuah jembatan kedua yang menyambung Singapura kepada kawasan Gelang Patah di Johor. Jembatan tersebut dikenal sebagai Tuas Second Link (Jalur Kedua Tuas).

Singapura memiliki 63 pulau pulau. Sebagai negara pulau, Singapura juga memiliki beberapa pulau-pulau kecil yang lain seperti Pulau Tekong, Pulau Ubin dan Sentosa. Lokasi tertinggi di Singapura berada di Bukit Timah dengan ketinggian 166m. Semenjak Singapura mereklamasi tanah pada awal tahun 1960, luas wilayah Singapura bertambah 581.5 kilometer persegi pada tahun 1960 dan 699.3 kilometer persegi hingga sekarang. Berdasarkan kalkulasi, luas wilayah Singapura masih akan bertambah 100 kilometer persegi lagi hingga tahun 2030. Beberapa pulau pulau kecil di Jurong telah di reklamasi dan dihubungkan untuk menjadi pulau pulau baru yang lebih besar dan berguna.

Cuaca di negara Singapura dikategorikan sebagai hutan hujan tropis dengan temperatur 22°C to 34 °C atau 72°F–93°F. Kecepatan angin berkisar 150 km/h pada 26 May 2007. Bulan Juni dan July adalah saat terpanas sedangkan bulan November dan Desember adalah peralihan monsoon. Belakangan ini khususnya pada bulan Agustus sampai Oktober, terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan di Indonesia yang telah menyebabkan lingkungan kesehatan yang buruk. Sekitar 23% dari Singapura merupakan hutan dan cagar alam. Akibat urbanisasi, banyak hutan yang telah dijadikan tempat tinggal. Cagar alam yang terkenal terletak di Bukit Timah Nature Reserve. Di Singapura juga terdapat taman botany – Singapore Botanic Garden.

 

Demografi Singapura

Singapura merupakan salah satu negara yang paling padat di dunia. 85% dari rakyat Singapura tinggal di rumah susun yang disediakan oleh Dewan Pengembangan Perumahan (HDB).

Penduduk Singapura terdiri dari mayoritas etnis Tionghoa (77,3%), etnis Melayu yang merupakan penduduk asli (14,1%), dan etnis India (7,3%), dan etnis lainnya (1,3%).
Mayoritas rakyat Singapura menganut agama Buddha (31,9%) dan Tao (21,9%). 14,9% rakyat Singapura menganut agama Islam, 12,9% menganut agama Kristen, 3,3% Hindu, dan lainnya 0,6%, sedangkan sisanya (14,5%) tidak beragama.

Singapura mempunyai empat bahasa resmi, yaitu Inggris, Mandarin, Melayu, dan Tamil. Bahasa Melayu adalah bahasa nasional Singapura tetapi lebih bersifat simbolis; ia digunakan untuk menyanyikan lagu kebangsaan (Majulah Singapura) dan juga sewaktu latihan dan dalam perbarisan pasukan tentera dan polisi. Pemerintah PAP lebih cenderung dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar (lingua franca) dan penggunaan bahasa Melayu hanya terbatas kepada kaum Melayu saja. Hanya segelintir daripada kaum Tionghoa dan India yang fasih dalam bahasa nasional (mayoritas daripada mereka telah melewati masa Singapura sebelum merdeka).

 

Politik di Singapura

Konstitusi Singapura berdasarkan sistem Westminster karana Singapura merupakan bekas jajahan Inggris. Posisi Presiden adalah simbolis dan kekuasaan pemerintahan berada di tangan perdana menteri yang merupakan ketua partai politik yang memiliki kedudukan mayoritas di parlemen.

Arena politik dikuasai oleh Partai Aksi Rakyat (PAP) yang telah memerintah sejak Singapura merdeka. Pemerintah PAP sering dikatakan memperkenalkan undang-undang yang tidak memberi kesempatan tumbuhnya penumbuhan partai-partai oposisi yang efektif. Cara pemerintahan PAP dikatakan lebih cenderung kepada otoriter daripada demokrasi yang sebenarnya. Namun, cara pemerintahan tersebut berhasil menjadikan Singapura sebuah negara yang maju, bebas daripada korupsi dan memiliki pasar ekonomi yang terbuka. Para ahli politik menganggap Singapura sebuah negara yang berideologi ‘Demokrasi Sosialis’.

GEOSTRATEGI SINGAPURA

Momentum dari derajat ketahanan Singapura sangat dipengaruhi oleh pendidikan yang terarah dan konsisten. Nilai yang tinggi ini didongkrak pula oleh jumlah penduduknya yang relatif sedikit hingga memudahkan penanganan masalahnya. ketahanan nasionalnya cukup rendah. Ia tidak punya hinterland sebagai basis pengunduran diri bila terjadi peperangan. Peralatan militernya memang relatif memadai dan modern, tetapi manusianya tidak punya pengalaman tempur sejati, lagi pula kurang kesempatan berlatih. Maka kalau kita menyetujui perjanjian pertahanan persis menurut kehendaknya, kitalah yang bakal “berjasa” membesarkan kemampuan riil negara pulau itu.

Kelemahan Singapura yang lain terkait pada mentalitas penduduknya yang serba pragmatis-individualistis; kenasionalannya rapuh karena akar humannya yang tradisional secara artifisial diganti dengan pragmatis-materialisme. Dengan aneka ancaman imajiner. Ia merasa dirinya bagai negara Israel di Asia Tenggara.
Walaupun luas wilayahnya hanya 692,7 km², Singapura memiliki sebuah pasar ekonomi yang maju dan terbuka, dengan PDB per kapita kelima tertinggi di dunia. Bidang ekspor, perindustrian dan jasa merupakan hal yang penting dalam ekonomi Singapura.

Pemerintah Singapura berhasil menetapkan simpanan uang yang tinggi dengan memperkenalkan sistem penyimpanan uang yang wajib kepada para pekerja. Singapura juga memperbaiki dan meningkatkan pendidikan dan teknologi. Era globalisasi yang terjadi pada saat ini menyebabkan Singapura lebih perhatian kepada usaha untuk menjadikan negara tersebut sebagai sebuah pusat keuangan dan teknologi dalam kawasan Asia.

Selain itu juga Singapura banyak mendapat untung dari para konglomerat hitam dari Indonesia yang lari ke sini seperti Sjamsul Nursalim, Bambang Sutrisno, Andrian Kiki Wiryawan, Agus Anwar, dll. perjanjian ekstradisi dan kerjasama pertahanan (defence cooperation agreement/DCA) antara Indonesia dan Singapura semakin menguat. Secara geopolitik Singapura sangat dekat dengan Amerika Serikat (AS). Padahal kita (Indonesia) sedang menjaga jarak dan tak mau didikte AS

ENERGY SECURITY DAN DCA SINGAPURA-INDONESIA
Sejak 27 April 2007, publik Indonesia meributkan isi (ataupun perihal) perjanjian pertahanan antara Singapura dan Indonesia. Perjanjian tersebut adalah DCA (Defence Cooperation Agreement). Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono dan Menteri Pertahanan Singapura Teo Chee Hean di Tampak Siring, Bali. DCA ini merupakan hasil negoisasi panjang antara Indonesia-Singapura. Daerah yang dijadikan target latihan dalam perjanjian ada 3 wilayah,

Jalur startegi pelayaran
Ditinjau dari sisi geopolitik dan geostrategi energi (migas) mengenai DCA tersebut. dari gambaran peta latihan hasil perjanjian tersebut, bagi kajiannya dari dua wilayah, yakni: Selat Malaka dan perairan Natuna. Kita kaji kedua wilayah ini tanpa melepaskan kaitan satu wilayah dengan wilayah lain. Keduanya saling berkaitan.
Selat Malaka. Selat ini merupakan salah satu yang tersibuk di dunia. Lalu lalang kapal barang seringkali melintasi selat ini. Terdapat tiga negara yang berdekatan dan jelas berkepentingan atas wilayah ini: Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Saking padatnya lalu lintas pelayaran, Selat Malaka ini kabarnya seringkali diincar para perompak laut. Tak heran, patroli gabungan antara aparat Indonesia, Malaysia, dan Singapura seringkali terlihat untuk mencegahnya. Untuk peningkatan pengamanan Selat Malaka ini bisa-bisa menelan biaya sebesar 300 juta USD. Yang jelas, akibat ramainya Selat Malaka ini, yang sangat diuntungkan adalah pelabuhan Singapura. Singapura memperoleh keuntungan luar biasa dari lalu lintas pelayaran ini.

Pelabuhan Singapura termasuk teratas dalam SepuluhPelabuhan tersibuk di dunia.
Perairan Natuna. Jalur pelayaran melalui Selat Malaka ini berkaitan dengan perairan Natuna. Karena perairan Natuna adalah satu jalur strategis (bersama Selat Malaka) bagi kapal-kapal laut, TERUTAMA kapal-kapal tanker minyak. Perairan Natuna berdekatan dengan Laut China Selatan

Selat Malaka dan perairan Natuna adalah jalur timur kapal-kapal tanker dunia dari Selat Hormuz yang menuju Asia Timur. Perairan Natuna dekat dengan konflik migas di Laut China Selatan.

UPAYA / STRATEGI YANG AKAN DAN SEDANG DI JALANKAN SINGAPURA
Dalam pesan hari Kebangsaan Singapura tahun 2006, PM Lee Hsien Loong secara umum menyebutkan situasi Singapura yang secara umum lebih kukuh dibandingkan masa sebelumnya. Perekonomian berkembang dan pekerjaan pun bertambah lua. Lebih lanjut PM Lee mengatakan, pada paruh pertama tahun ini, Singapura mencatat pertumbuhan sebanyak 9,4%, dari ramalan pertumbuhan setahun penuh yang diperkirakan antara 6,5-7,5%. Jumlah pekerjaan baru yang tercipta adalah sebanyak 81,500 pekerjaan dalam paruh pertama tahun ini, yang mana merupakan angka penciptaan pekerjaan tertinggi bagi Singapura dalam 10 tahun terakhir. Rakyat pun mendapatkan bantuan agar dapat mengisi posisi-posisi tersebut, terlebih bagi generasi tua dan yang berketrampilan rendah, agar dapat mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Masih dalam bidang ekonomi, Pesan Hari Kebangsaan Perdana Menteri juga menyambut baik pertumbuhan 2 raksasa ekonomi Asia, yang merangsang pertumbuhan Negara-negara sekitarnya. Berkaitan dengan ekonomi, PM Lee juga menyebutkan situasi geopolitik yang kini agak mengkhawatirkan. Dirinya berharap supaya situasi yang tidak menentu dapat segera dihentikan.

Keadaan di Timur Tengah sedang bergolak. Program nuclear Iran mencetuskan kebimbangan antarabangsa. Iraq kini di ambang perang saudara. Pertempuran di antara Israel dengan Hezbollah dan Hamas berlarutan. Singapura berharap lingkaran keganasan yang tidak menentu ini dapat dihentikan. Jika krisis ini menjadi buruk dan mengganggu bekalan minyak dunia, harga minyak akan melambung lebih tinggi, dan mencetuskan kemelesetan global.

Mengenai perundingan WTO di Doha yang tampaknya sedang menghadapi jalan buntu, Singapura mengharapkan agar tercapai kesepakatan karena sebagai perekonomian terbuka yang bergantung pada aliran perdagangan dan investasi bebas, Singapura bisa dengan mudah terpengaruh. Namun demikian PM Lee menekankan bahwa Singapura akan terlindungi oleh perjanjian-perjanjian perdagangan bebas yang telah disepakati.

Selain masalah ekonomi dan geopolitik, amanat Hari Kebangsaan Perdana Menteri Singapura juga menyinggung masalah regional lainnya. Salah satu hal yang disebut oleh PM Lee, adalah kekhawatiran mengenai wabah flu burung, yang meskipun banyak terjadi di Indonesia, namun efeknya bisa menyebar ke seluruh dunia. Maka itu Singapura pun memberikan perhatian dan bantuan agar masalah ini bisa ditangani.

Maka itu PM Lee menghimbau agar rakyat Singapura tetap waspada dan membangun bahu-membahu, tidak hanya di dalam negeri namun juga membangun kawasan serantau itu. Dalam amanat tersebut PM Lee juga kembali mengingatkan ketahanan rakyat Singapura, dan mengingatkan akan segala potensi dan ancaman yang ada.

Baca Artikel Lainnya: