timah

Karakterisasi bijih timah

Bijih timah yang ditambang di Indonesia umumnya terbuat dari endapan timah aluvial dan sering disebut sebagai endapan timah sekunder atau disebut timah placer. Jenis bijih timah ini dilepaskan dari deposit induknya, yang merupakan kolam utama, dan air lagi disimpan di tempat lain di bawah.

Secara ekonomi, mineral yang menghasilkan timah adalah kasiterit dengan rumus kimia SnO2, meskipun ada sebagian kecil timah yang dihasilkan dari sulfida seperti stanit, silindrite, frankeite, kanfieldite dan tealite. Mineral utama yang terkandung dalam bijih timah adalah kasiterit, sedangkan mineral yang terkait adalah pirit, kuarsa, zirkon, ilmenit, galena, bismut, arsenik, stibnit, kalkopirit, xenotime dan monasit.

Pengolahan bijih timah

Secara umum, pengolahan bijih timah logam timah terdiri dari operasi konsentrasi / mineral dressing dan ekstraksi yaitu pelelehan atau pelelehan, pemurnian atau pemurnian.


Fase konsentrasi
SnO2 dalam bentuk bubuk

Fase konsentrasi bijih timah adalah operasi untuk meningkatkan kandungan timah menggunakan peralatan seperti Jig Concentrator, palongs dan meja goyang. Bijih timah yang diproses memiliki kandungan awal sekitar 30-65% dari Sn. Setelah melalui operasi pemisahan, kandungan timah minimum yang harus diperoleh untuk digunakan sebagai umpan fusi fase pertama adalah 70% Sn.


Fase lebur

Proses peleburan adalah proses pengurangan dari konsentrat timah suhu tinggi ke logam timah. Prinsip reduksi adalah melepaskan ikatan oksigen yang terkandung dalam mineral kasiterit. Zat pereduksi yang digunakan sebagai reduktor adalah gas CO. Reaksi yang terjadi selama proses fusi adalah:
SnO2 + CO = SnO + CO2
SnO + CO = Sn + CO2
Dalam proses peleburan, limbah dan timah tidak akan terbentuk. Limbah akan mengikat kotoran yang terkandung dalam konsentrat. Yang paling tidak murni yang ditemukan dalam konsentrat timah adalah Fe.
Proses merger ini terdiri dari dua fase. Tahap pertama fusi adalah pelelehan konsentrat timah yang menghasilkan timah mentah atau terak dan terak (slag). Tingkat timah dalam terak saya sekitar 20 persen. Tahapan ini juga dikenal sebagai melelehnya konsentrat timah karena umpan yang dilelehkan adalah konsentrat bijih timah.

Terak I kemudian dilarutkan kembali dalam penggabungan tahap kedua. Fusi pada fase kedua menghasilkan senyawa Fe-Sn yang disebut hardhead dan slag II dengan level Sn lebih rendah dari 1%. Hardhead adalah bahan baku untuk peleburan tahap pertama.

Sumber : rumus.co.id