Kebijakan Luar Negeri Ketat AS Surutkan Minat Mahasiswa Asing

Kebijakan Luar Negeri Ketat AS Surutkan Minat Mahasiswa Asing

Kebijakan Luar Negeri Ketat AS Surutkan Minat Mahasiswa Asing

Kebijakan Luar Negeri Ketat AS Surutkan Minat Mahasiswa Asing

Mahasiswa internasional terus merasakan dampak buruk perubahan politik di AS yang mempersulit kepindahan dan belajar di Amerika, kata Asosiasi Pendidik Internasional yang meminta tanggapan Kongres untuk bertindak.

“Siswa internasional menciptakan lapangan pekerjaan, mendorong penelitian, memperkaya ruang kelas dan, memperkuat keamanan nasional, dan menjadi aset kebijakan luar negeri terbesar Amerika. Namun pendaftaran mahasiswa internasional baru turun secara dramatis di seluruh Amerika, ” kata Rebecca Morgan, Direktur Media NAFSA (Association of International Educators) dalam laporan yang dirilis baru-baru ini.

AS sejak lama unggul dalam menarik mahasiswa asing untuk belajar di berbagai perguruan tinggi dan universitasnya. Ada satu juta lebih mahasiswa internasional di AS, dengan separuhnya berasal dari China atau India, demikian menurut statistik tahunan yang disusun oleh Institute for International Education (IIE).

Pendidikan internasional adalah industri bernilai $39 miliar dan merupakan pendapatan yang signifikan bagi beberapa kota dan negara bagian. Satu dari tiga mahasiswa internasional belajar di California, New York atau Texas. Sedangkan Massachusetts, Illinois, Pennsylvania, Florida, Ohio, Michigan dan Indiana memiliki populasi siswa asing yang juga cukup besar, kata IIE.
Kebijakan Ketat Jadi Faktor Turunnya Mahasiswa International di Amerika
Embed share
Kebijakan Ketat Jadi Faktor Turunnya Mahasiswa International di Amerika
by VOA Indonesia
Embed share
The code has been copied to your clipboard.
The URL has been copied to your clipboard

Teruskan di Facebook
Teruskan di Twitter

No media source currently available
0:00 4:42
0:00
Unduh

Sejak 2016, pemerintahan Trump telah mengubah kebijakan imigrasi untuk pelajar dan mahasiswa, dimulai dengan perintah eksekutif pada 2017 yang membatasi masuknya warga negara dari tujuh negara yang sebagian besar Muslim ke AS.

Ketika mengeluarkan keputusan itu Presiden Donald Trump menyebutnya sebagai tindakan demi keamanan nasional. Penurunan jumlah mahasiswa yang mendaftar di perguruan tinggi dan universitas AS bertepatan dengan apa yang dikatakan larangan perjalanan itu, dan banyak pendidik dan mahasiswa mengecam tindakan pemerintah tersebut.
Seorang mahasiswa China berbicara di telepon di belakang poster iklan pendidikan luar negeri usai ujian SAT (Scholastic Assessment Test) di AsiaWorld-Expo, Hong Kong, 2 November 2013. SAT adalah pra syarat mendaftar ke perguruan tinggi AS. (Foto: Reuters)
Seorang mahasiswa China berbicara di telepon di belakang poster iklan pendidikan luar negeri usai ujian SAT (Scholastic Assessment Test) di AsiaWorld-Expo, Hong Kong, 2 November 2013. SAT adalah pra syarat mendaftar ke perguruan tinggi AS. (Foto: Reuters)

Sejak itu, pemerintahan Trump mengancam akan membatasi durasi beberapa visa pelajar, khususnya pelajar dari China.​

Keputusan itu berdampak sangat buruk pada antusiasme mahasiswa internasional pada AS, kata para ahli. Jika visa pelajar dibatalkan sebelum mereka lulus, mereka mungkin harus memulai lagi di negara lain, kehilangan uang kuliah, biaya, kredit, kontak, asosiasi, dan kadang-kadang, proyek penelitian.

“Tindakan pemerintah yang tidak konsisten dan ketidakpastian merongrong

pertumbuhan ekonomi dan daya saing Amerika dan menciptakan kecemasan bagi pegawai yang mematuhi hukum,” kata laporan IIE. “Dalam banyak kasus, para pegawai ini belajar di AS dan menerima gelar dari universitas AS sering di bidang penting STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics).”
/**/ /**/ /**/ Mahasiswa Brooklyn College di New York, 1 Februari 2017. (Foto: dok).
BACA JUGA:
AS Perluas Kesempatan Kerja Bagi Mahasiswa Asing Pasca Kuliah

“Yang saya dengar dari mahasiswa adalah meningkatnya biaya, kurangnya strategi

nasional, ketidakpastian imigrasi, dan retorika yang tidak bersahabat” membuat mereka tidak mau belajar di AS,” kata Salma Benhaida, direktur rekrutmen internasional di Kent State University di Ohio.

Benhaida dan rekan perekrut mahasiswa lainnya memimpin pertemuan pada

konferensi tahunan NAFSA di Washington minggu ini. Ketika mereka menanyakan berapa banyak perguruan tinggi dan universitas mengalami penurunan pendaftaran, sekitar separuh dari 150 pendidik dan perekrut yang hadir mengangkat tangan mereka. Sebagian menyebutkan masalah keselamatan dan keamanan yang mahasiswa dari keluarga mereka terkait kekerasan A.S., seperti penembakan massal dan kerusuhan di dekat kampus.

 

Sumber :

https://forums.adobe.com/people/danuaji88