Nasib Taman Baca di Tengah Gempuran Digital

Nasib Taman Baca di Tengah Gempuran Digital

Nasib Taman Baca di Tengah Gempuran Digital

Nasib Taman Baca di Tengah Gempuran Digital

Di tengah gempuran era digital dan serba instan seperti sekarang, taman bacaan

seharusnya dapat dipilih anak-anak atau orang tua untuk memperkuat karakter dan mengembangkan potensi setiap anak yang tidak dilakukan di sekolah. Taman bacaan, tentu bukan hanya kegiatan membaca.

Dikatakan Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dan pegiat literasi, ada beberapa alasan kenapa anak perlu ke taman bacaan, antara lain: Dapat berinteraksi dengan teman sebaya sambil ngobrol tentang dunia mereka sendiri. Tiap anak bisa bercerita sesuai gayanya masing-masing.

“Setelah membaca buku, anak-anak pun dilatih untuk menulis sebagai ekspresi ide dan gagasannya sehingga terbiasa menulis daripada berbicara,” ujar Syarifudin.

Selanjutnya, perlu ditanamkan adab-etika dan perilaku baik pada anak-anak melalui

salam, doa, antre, bahkan sopan-santun selama berada di taman bacaan. Bisa menonton youtube bersama, sambil belajar internet yang sehat di taman bacaan dengan bimbingan pengelola taman bacaan.

“Perlu diajarkan keterampilan, lomba, dan kegiatan positif yang disenangi anak-anak; seperti senam literasi, parade baca buku hingga membaca di alam terbuka. Disadarkan akan pentingnya sekolah hingga tuntas; agar tidak ada anak yang putus sekolah.”

Maka seharusnya, kata Syarifudin, taman bacaan tidak boleh sepi.  Karena taman bacaan di manapun, adalah ruang publik untuk membangun tradisi baca dan budaya literasi bagi masyarakat setempat. Sehingga mampu menjadi pusat belajar informasi dan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Ada yang salah bila taman bacaan sepi. Karena taman bacaan adalah pusat

kegiatan anak yang positif, sekaligus tempat membentuk tradisi baca. Maka saya mengimbau, semua pihak baik pemerintah, korporasi maupun individu untuk lebh peduli terhadap taman bacaan di manapun. Zaman boleh maju. Tapi membaca jangan ditinggalkan. Mau jadi apa anak-anak, bila tidak baca?” ujar Syarifudin Yunus, Pendiri TBM Lentera Pustaka dan pegiat literasi.

Harus diakui, saat ini menjadikan anak-anak “dekat” dengan budaya membaca memang tidaklah mudah. Untuk itu, dibutuhkan komitmen dan aksi nyata dalam mengajak anak-anak untuk mau bergelut dengan buku bacaan. Karena itu, pengelola taman bacaan pun harus kreatif dan mampu membuat program taman bacaan yang menarik anak-anak. Karena jika tidak, taman bacaan kian “ditinggalkan” anak-anak

 

Baca Juga :