Objek Kajian Psikolunguistik Terapan

Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa objek kajian psikolunguistik terapan tidak lain adalah bahasa, yakni bahasa manusia yang berfungsi sebagai sistim komunikasi yang menggunakan ujaran sebagai medianya; bahasa keseharian manusia, bahasa yang dipakai sehari-hari oleh manusia sebagai anggota masyarakat tertentu, atau dalam bahasa Inggris disebut dengan an ordinary language atau a natural language. Ini berarti bahasa lisan (spoken language) sebagai obyek primer psikolunguistik, sedangkan bahasa tulisan (written language) sebagai obyek sekunder psikolunguistik, karena bahasa tulisan dapat dikatakan sebagai “turunan” bahasa lisan.

Sementara itu, seorang ahli psikolunguistik kebangsaan Swiss yang dianggap sebagai bapak psikolunguistik modern- menegaskan bahwa objek psikolunguistik mencakup “langage, langue dan parole”. Langage (Inggris; Linguistic disposition) adalah bahasa pada umumnya, seperti dalam ungkapan “manusia mempunyai bahasa, sedangkan hewan tidak mempunyai bahasa”. Langue (Inggris; language) berarti bahasa tertentu seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Indonesia dan lain-lain. Sedangkan parole (Inggris; speech) berarti logat, ucapan atau tuturan.

Sebenarnya kata Language dalam bahasa Inggris meliputi baik langage maupun langue dalam bahasa Perancis. Namun demikian, parole merupakan objek kongkrit psikolunguistik, langue merupakan objek yang sudah lebih abstrak, sedangkan langage merupakan objek yang paling abstrak.

Sebenarnya ada beberapa ilmu yang berhubungan dengan psikolunguistik terapan sebagai objek kajiannya, antara lain:

  1. Psikolunguistik terapan atau ilmu-ilmu tentang aspek-aspek bahasa; dan dalam hal ini bahasa digunakan dalam arti harfiyah. Inilah yang disebut pure psikolunguistik atau psikolunguistik murni.
  2. Ilmu-ilmu tentang bahasa; dan dalam hal ini, istilah bahasa digunakan dalam arti metaforis atau kiasan. Contoh ilmu yang termasuk kategori ini adalah kinesik dan parapsikolunguistik. Kinesik adalah ilmu tentang gerak tubuh/kial/ body language, seperti anggukan kepala, isyarat tangan dan lain-lain. Parapsikolunguistik adalah ilmu yang memusatkan perhatiannya pada aktifitas-aktifitas tertentu yang mengiringi pengucapan bahasa, seperti desah nafas, decak, ketawa, batuk-batuk kecil, bentuk-bentuk tegun seperti ehm, anu, apa itu, apa ya dan lain sebagainya.
  3. Ilmu tentang pendapat-pendapat mengenai bahasa. Contohnya metapsikolunguistik, yakni ilmu yang membicarakan seluk beluk “bahasa” yang dipakai untuk menerangkan bahasa yang tercermin dalam istilah studi teori psikolunguistik, studi metode psikolunguistik dan lain-lain.
  4. Ilmu-ilmu mengenai ilmu bahasa. Yang termasuk kategori ini adalah studi-studi yang mengkhususkan dirinya pada ilmu psikolunguistik itu sendiri, sperti studi tentang sejarah perjalanan ilmu psikolunguistik, studi psikolunguistik pada abad ke dua puluh dan lain-lain.

Dari keempat jenis ilmu tersebut di atas, maka hanya nomor (1) saja yang bisa disebut sebagai ilmu psikolunguistik yang murni karena objeknya bahasa yang benar-benar bahasa, sedangkan objek keatiga ilmu lainnya bukanlah bahasa dalam pengertian sehari-hari .

Bahasa yang menjadi objek psikolunguistik terapan dipelajari dari berbagai aspeknya atau tatarannya. Tataran bahasa itu meliputi aspek bunyi, morfem dan kata, frase dan kalimat serta aspek makna.

Cabang psikolunguistik yang mempelajari aspek bunyi bahasa adalah fonologi. Tataran morfem atau kata dipelajari dalam morfologi. Tataran frase/kalimat dibahas dalam sintaksis. Sedangkan aspek makna bahasa dipelajari dalam ilmu tersendiri yang disebut semantik.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa cabang-cabang psikolunguistik ditinjau dari tatarannya terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Berpijak pada apa yang telah dikemukakan oleh Ramelan tersebut di atas, maka jelaslah bahwa objek kajian psikolunguistik adalah bahasa.

Istilah bahasa memang sering disalahfahami oleh orang. Sebagian orang menganggap bahasa mencakup semua sarana yang bisa digunakan sebagai alat komunikasi seperti tulisan, isyarat, gerakan tangan dan bibir yang digunakan oleh kelompok orang tuli dan bisu dan lain-lain.

Oleh karena itu perlu ada definisi yang jelas mengenai bahasa yang menjadi objek kajian psikolunguistik. Dalam ilmu psikolunguistik bahasa juga diartikan sebagai alat komuniasi yang dengannya pesan dapat tersampaikan. Namun demikian, ada perbedaan antara bahasa dengan alat komunikasi yang lain berkaitan dengan medianya.

Sumber :

https://khasanahkonsultama.co.id/jestro-ag60-anggur-tanpa-biji-dari-balitbang-pertanian/