Pelangkah

Pelangkah

Pelangkah

Pelangkah

“Kak Nadia mau pelangkah apa?”

Pertanyaan sederhana itu meluncur dari bibir Kania, adik Nadia. Biar sederhana, tapi cukup membuat hati Nadia bagai disambar geledek. Nadia melemparkan pandangan tidak bertanya-tanya kepada Kania. Kania langsung merasa tidak enak. Hal seperti ini pastinya sangat sensitif bagi Nadia. Didahului menikah, atau dilangkahi, oleh adik perempuan, seolah menjadi semacam aib tersendiri bagi perempuan seperti Nadia. Umur 28 tahun, pekerjaan cukup bagus, kekasih pun sebenarnya ada – hanya saja masih belum pasti.

Kedekatan Kania dengan Edo selama 6 bulan terakhir ini sebenarnya cukup membuat hati Nadia was-was. Edo mirip Raka, kekasih Nadia. Tipe pria yang serius dalam menjalin hubungan. Tipe pria yang begita pacaran tujuannya langsung melompat ke arah pernikahan. Tapi, Edo ada di sini. Sedangkan Raka, menunda pernikahan itu karena harus pergi ke London mengejar gelar doktor.

“Handphone boleh?” jawab Nadia asal-asalan.“Gak mobil aja sekalian?” balas Kania, sewot.“Boleh juga, kalo bisa.” Nadia makin asal.

“Mama gak suka deh, kalo ada yang minta-minta begitu.” Mama mereka berdua nimbrung, mendengar percakapan dua anak gadisnya itu.“Ya kan, becanda aja, Ma.” Nadia meralat jawabannya tadi. Lalu, terdiam sebentar sebelum melanjutkan, “Ya terserah aja, lah. Aku gak ngerti, Ma.”

Beberapa hari yang lalu mama mengajaknya berbicara soal hal ini. Nadia hanya bisa bilang, “Aku gak pa-pa, Ma. Gak masalah koq.”

Entahlah… di luar ia berusaha tegar, tapi di dalam hatinya, ia agak sedih. Bukan sedih karena Kania akan melangkahinya, tapi sedih – atau tepatnya takut – dengan omongan orang di luar. “Aku tidak mau dikasihani,” selalu Nadia bertekad dalam hati. “Aku harus kuat. Gak masalah kan? Banyak teman-temanku yang juga belum menikah, meski umurnya sudah 30 tahunan.”

Di hari pertunangan Kania dan Edo, Nadia pura-pura tidak tahu apa yang akan diberikan Kania sebagai pelangkah. Beberapa hari yang lalu, tidak sengaja Nadia menemukan sebuah kotak cantik, dan membukanya untuk melihat apa isinya. Ia sempat tercekat. “Akhirnya… semua ini benar…”

Om Indra menyerahkan selembar kertas kecil. Dengan bingung Nadia menatap kertas itu. Om Indra hanya bilang, “Dihafal ya.” Nadia membuka lipatan kertas itu. Ia hanya bisa mendesah dalam hati, dan pelan-pelan mulai menghafal tulisan yang ada di kertas itu.

Tibalah saatnya. Rombongan keluarga Edo pun datang, membawa belasan keranjang seserahan. Diawali dengan perkenalan, akhirnya Kania keluar dari kamarnya. Terbalut kebaya warna merah muda, Kania tampak cantik. Sekuntum bunga mawar yang masih agak kuncup menghias sanggulnya.

Kania duduk di depan Nadia. Ia punya berucap dengan pelan, “Kak Nadia, Kania mohon doa restu. Semoga Kak Nadia bisa menyusul langkah kami berdua. Insya Allah.”

Nadia membalas ucapan adiknya, kata-kata yang sudah dihafalnya dari tadi. Dengan hati berdebar, dan dalam hati ia berkata, “Aku gak boleh nangis. Jangan sampai orang mensalahtafsirkan aku sedih karena dilangkahi.” Dengan suara pelan tapi tegas, Nadia berkata, “Kakak merestui langkah kalian berdua. Do’akan Kakak semoga, Insya Allah, Kakak bisa menyusul langkah kalian berdua.”

Kania menyerahkan sebuah kotak putih yang cantik, yang berisi bahan kebaya brokat warna merah dan kain sutera juga berwarna merah sebagai pelangkah.

Sisa acara itu dilewati Nadia dengan rasa tersiksa. “Ternyata gak semudah itu. Kenapa semua orang berpikir aku sedih. Kalo mereka tau aku sedih, ya sudah lah… gak perlu dibahas. Gak perlu tanya-tanya, kapan nyusul? Gak usah sok perhatian…!!” Nadia serasa mau menjerit menjawab pertanyaan para nenek dan saudara-saudara yang lain, yang terkesan usil baginya.

“Aku gak sedih…!!” Nadia menjerit marah dalam hatinya. “Kalau aku diam, itu karena aku malas menanggapi ucapan-ucapan kalian!”

Seseorang menepuk bahunya. Nadia tersentak, tersadar dari lamunannya yang penuh kemarahan. Ternyata Nenek Raya, nenek yang paling usil, yang suka mengajukan pertanyaan yang tidak penting. Dan benar saja, beliau bertanya, “Jadi kapan nih, nyusul? Nanti ketinggalan kereta lho!” Nadia hanya bisa tersenyum pasrah menanggapi pertanyaan sang Nenek, tapi dalam hati…

Deg… jantung Nadia rasanya mau jatuh ke tanah… “Ketinggalan kereta? Ke-ting-ga-lan-ke-re-ta-?” Nadia mengeja, mencerna pertanyaan Nenek Raya. Tak urung hatinya langsung sedih, teringat teman-teman kuliah, smu, smp yang sebagian sudah berkeluarga, bahkan ada yang sudah punya tiga orang anak. Email-email di milis jurusannya di universitas tidak lagi memberi kabar si A akan menikah, si B akan menikah – ah.. sudah semakin jarang email berita pernikahan – tapi yang sering, si A baru punya anak pertama, si B baru punya anak ke dua, atau si C baru punya anak ketiga. Sementara dirinya… masih begini-begini saja. Inilah yang kadang membuatnya malas berkumpul dengan teman-teman sekampusnya dulu.

Tiba-tiba, lagi-lagi pundak Nadia ditepuk, kali ini oleh Om Indra. Pandangan mata Om Indra yang menunjukkan rasa prihatin, pengertian. Nadia tersenyum. Sementara Om Indra berkata, “Udah. Cuekin aja. Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri aja.” Om Indra memang om yang paling doyan becanda dan dekat dengan keponakan-keponakannya.

Nadia tersenyum miris, “Gak ada yang tahu kan apa yang sebenarnya aku rasakan? Gak ada yang tahu. Tapi, semua sok tahu.”
Dan hari ini… hari bahagia untuk Kania dan Edo. Di acara akad nikah, Nadia memakai baju kebaya brokat merah, bahan pemberian Kania sebagai pelangkah. Nadia ikut tersenyum lega dan haru, melihat adiknya sekarang sudah menjadi seorang istri. Tak pernah ada bayangan di benak Nadia kalau Kania akan menikah lebih dulu. Teringat periswtiwa lima tahun yang lalu, ketika acara lamaran Kak Tiara, kakak perempuan Nadia dan Kania. Salah seorang tante mereka bertanya, “Abis ini siapa nih?” Spontan Nadia menunjuk ke arah Kania yang berdiri di sebelahnya. Dan ternyata…

Tuhan melihat ‘candaan’ Nadia dan ‘mengabulkan’ candaan itu.

Sebait do’a dibisikkan dalam hati, “Ya Tuhan, ijinkan aku merasakan kebahagiaan yang sama dengan Kania.”

Baca Juga :