Pengertian Manajemen Diri Dalam Belajar

Secara terminologi pengertian manajemen banyak dikemukan oleh ahli manajemen misalnya Siagian (1980) menyatakan bahwa manajemen adalah kemampuan keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Sedangkan Donely, dkk (1984) menyebutkan bahwa manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk mengatur kegiatan-kegiatan melelui orang lain atau dirinya sendiri sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang tidak mungkin dilaksanakan seorang saja. Dari pengertian diatas dapat ditari pemahaman bahwa manjemen diri pada siswa sangat memungkinkan membantu proses dan keberhasilan pembelajaran.

Manajemen diri dalam belajar merupakan sebuah tanggung jawab dan kemampuan belajar pada diri siswa. Siagian (1980) menyatakan bahwa tidak ada orang yang mampu untuk belajar demi kepentingan orang lain salah satu alasan pandangan teori behavioral tertarik dengan menerapkan manajemen diri dalam proses pembelajaran adalah karena siswa diajar dengan metode perilaku klasik sehingga sangat jarang menggeneralisasikan hasil belajarnya pada situasi baru. Mendorong siswa agar melakukan manajemen diri memang memerlukan waktu tambahan, karena pendidik mengajarkan bagaimana peserta didik dibimbing untuk bertanggungjawab pada dirinya, tetapi apabila pendidik melupakan pembinaan manajemen diri bagi siswa maka siswa akan kesulitan belajar dan bekerja secara independen, setelah mereka berada pada sekolah yang memiliki manajemen yang bagus.

Deskripsi Teori tentang Manajemen Diri Dalam Belajar

Manajemen diri secara umum terdiri dari tiga langkah utama yaitu, menentukan tujuan, memonitor dan mengevaluasi kemajuan, dan memberikan penguatan diri. Apabila tujuan pendidikan untuk menghasil-kan orang-orang yang mampu mendidik dirinya maka siswa harus belajar mengatur hidupnya dengan menetukan tujuannya sendiri, memonitor dan mengevaluasi perilakunya, dan menyediakan penguatan untuk dirinya.

Siswa mungkin terlibat dalam beberapa atau semua langkah untuk mengimplementasikan program pembelaja-ran, maka pada kondisi ini siswa harus bisa membantu dirinya untuk menentukan tujuan,mengobservasi pekerjaannya sendiri mencatat perkembangan, dan mengevaluasi kinerjanya sendiri. Akhirnya mereka dapat memilih dan memberikan penguatan untuk dirinya sendiri. Keterlibatan seperti ini dapat membantu siswa belajar mengatur langkah kerjanya di masa datang sehingga siswa mampu lebih mandiri. Woolkfolk (1993) mengungkapkan, bahwa sekitar 70% anak berbakat didunia pendidikan mempunyai intelegensi yang tinggi tetapi tidak menampilkan prestasi yang cemerlang dibanding dengan potensinya yang ada, disebabkan siswa tersebut tidak memiliki manajemen diri dalam belajar.

Secara umum deskripsi teori manajemen diri dapat dilihat kedalam beberapa bagian diantaranya:

  1. Menentukan Tujuan

Dalam pembelajaran tujuan sangat mempengaruhi hasil belajar, sebagaimana dalam teori Adlier dalam Siagian (1980) tentang tujuan fiktif (fictional goal) menyatakan bahwa perilaku seseorang diarahkan pada tujuan di masa yang disusun sendiri. Tujuan fiktif yang baik akan disusun oleh orang yang bersangkutan berdasarkan kreativitas dirinya sehingga tujuan itu menjadi unik bagi setiap orang. Subjektivitas dalam penyusunan tujuan fiktif berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan belajar seseorang. Dengan arti lain apabila tujuan sudah diketahui maka tindakan orang tersebut akan lebih mantap dalam proses pembelajaran. Teori ini juga didukung dengan teori Bandura tentang teori motivasi dan kinerja (Bertal & Sake, 1978). Dimana orang-orang akan berfikir positif apabila telah mengetahui tujuan yang akan dicapai. Tujuan ini disebutnya juga tujuan spesifik karena dalam rumusannya tujuan itu realistik, dan terukur.maka orang-orang yang sukses dengan tujuan ini dia akan meningkatkan keyakinan diri, keyakinan diri akan meningkatkan status sosial di kelas.

Memperhatikan uraian di atas, jelas sekali bahwa dalam proses pembelajaran, siswa sangat penting untuk mampu menyusun tujuannya sendiri. Sebaliknya guru harus berusaha secara maksimal untuk membimbing siswa dalam menyusun tujuan belajarnya, sehingga bisa dijadikan pedoman perilakunya sehari-hari dikelas maupun di luar kelas.

  1. Mencatat dan Mengevaluasi Kemajuan

Untuk melatih dan mencapai tujuan pembelajaran siswa juga diajarkan mencatat semua apa yang telah dikerjakan dalam proses pembelajaran seperti telah melaksanakan beberapa tugas belajar, tanpa pengawasan guru. Dan seperti pembelajaran oleh teori perilaku Workman (1993: 177) yang disebutnya teori belajar pengontrol perilaku. Siswa mempunyai kartu kemajuan studi yang berfungsi membantu siswa untuk membagi-bagi tugas menjadi langkah-langkah lebih kecil, menentukan urutan terbaik untuk melengkapi langkah-langkah dan merekam kemajuan sehari-hari dengan menetapkan tujuan sehari-hari.

Teori ini didukung juga dengan teori Morgan (1985) mengkombinasikan penetapan tujuan, pencatatan diri, dan evaluasi diri teori ini disebutnya dengan teori belajar monitoring. Dimana siswa sudah mempunyai tujuan belajar sendiri untuk mencapai tujuan dengan alat monitoring sebagai tolak ukur pelajaran dilakukan. Siswa di suruh melakukan sendiri urutan- urutan pembelajaran sampai melakukan evaluasi secara sendiri.

Penguatan Diri

Langkah terakhir dalam manajemen diri adalah penguatan diri ( self reinforcement ) teori belajar Hayes dan kawan-kawan mengungkapkan salah satu penguatan dalam manajemen diri adalah self reinforcement, dengan beberapa kegiatan awal seperti, observasi diri sebelum belajar, mengambil keputusan dalam menetap-kan tujuan, dan merespon diri dalam setiap pembelajaran.

Sumber: https://multiply.co.id/