Presentasi Disertasi, Calon Doktor Suko Widodo Tegang

Presentasi Disertasi, Calon Doktor Suko Widodo Tegang

Presentasi Disertasi, Calon Doktor Suko Widodo Tegang

Presentasi Disertasi, Calon Doktor Suko Widodo Tegang

Raut wajah Suko Widodo tampak ceria Kamis (7/9). Senyum terus terpancar ketika satu per satu tamu berbaris menyalaminya di Ruang Adi Sukadana FISIP Universitas Airlangga (Unair). Siang itu, Suko baru mempresentasikan disertasinya dalam sidang terbuka di hadapan penguji dan ratusan tamu undangan akademik.

Kelegaan Suko saat itu berbanding terbalik dengan beberapa menit sebelumnya. Ketegangan dan kegelisahan terlihat jelas. Terutama ketika dia mesti menjawab pertanyaan yang dilontarkan promotor, penguji, dan penyanggah.

Kegelisahan itu ditangkap Gubernur Jatim Soekarwo yang menjadi penyanggah

dalam sidang terbuka tersebut. ”Pak Suko ini kalau ngomong di luar terlihat santai. Rileks. Tapi, di sini ternyata bisa stres juga,” katanya sebelum melontarkan pertanyaan. Ucapan orang nomor 1 di Jatim itu sontak membuat tawa hadirin berderai.
Presentasi Disertasi, Calon Doktor Suko Widodo Tegang
PROSES PANJANG: Suko Widodo membacakan sumpah doktor disaksikan Warek I Unair Prof Djoko Santoso (kiri), Ketua Tim Penguji Prof Budi Prasetya, dan Gubernur Jatim Soekarwo. (Edi Susilo/Jawa Pos/JawaPos.com)

Disertasi Suko tersebut berjudul Kolonisasi Ruang Publik dalam Penyiaran Publik di Indonesia, Studi Kasus Penyiaran Publik Lokal di Jawa Timur (TVRI Jawa Timur dan A-TV Batu). Di dalamnya, Suko menyebut perlunya dukungan pemerintah pada penyiaran publik. Di antaranya, memberikan support berupa pendanaan tanpa perlu melakukan intervensi kekuasaan. Sebab, menurut dia, lembaga penyiaran publik lokal harus bersifat independen.

Bukan hanya itu. Dia juga mendukung adanya komite penyiaran publik yang bisa

menyaring dan mewadahi dialog bersama masyarakat. ”Pelibatan masyarakat dalam upaya membentuk penyiaran yang bermutu sangat diperlukan,” jelas pria kelahiran 4 Februari 1964 itu.

Suko menyarankan pentingnya memberikan porsi seni, budaya, dan kearifan lokal dalam penyiaran publik. Dia meyakini pemberian konten budaya tersebut berperan mereduksi tayangan atau tampilan negatif yang sering menyeruak akhir-akhir ini.

Dia menambahkan, proses disertasinya tersebut memakan waktu sangat panjang.

Delapan tahun. Selain kendala kesibukan, operasi jantung yang pernah dijalani selama masa studi membuat dia harus cuti hingga lima semester. ”Ya, meski lama, yang penting kelar juga,” ucapnya lega.

 

Sumber :

https://works.bepress.com/m-lukito/2/