Program Pendidikan Nadiem Makarim pada Raker Pertama Sebagai Menteri Pendidikan

Program Pendidikan Nadiem Makarim pada Raker Pertama Sebagai Menteri Pendidikan

Program Pendidikan Nadiem Makarim pada Raker Pertama Sebagai Menteri Pendidikan

Program Pendidikan Nadiem Makarim pada Raker Pertama Sebagai Menteri Pendidikan

Nadiem Makarim melaksanakan rapat kerja pertamanya sebagai Menteri Pendidikan bersama DPR pada Rabu, 06 november 2019. Berikut materi rapat kerjanya.

Manusia masa depan harus bisa menerima perubahan, karakter yang harus dimiliki yaitu adaptabilitas, fleksibilitas, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, karakter, integritas dan compassion.

Kemampuan dan kemauan untuk belajar seumur hidup adalah kompetensi yang

terpenting. Karakter, moralitas, akhlak. Kita harus memikirkan bagaimana kita bisa membuka potensi pemuda di Indonesia.

Arahan pendidikan Indonesia saat ini yaitu:
membangun pendidikan karakter anak dengan komik pendidikanMembangun pendidikan karakter anak, salah satu contohnya melalui bacaan komik pendidikan.

Pendidikan karakter.

Kita harus mengerti akar masalahnya. Saat ini kita memasuki era Information overload. Kalau pemuda kita tidak punya karakter kuat, dan kemampuan menganalisa, dia akan tergerus hoax dan penjajahan pemikiran. Pemuda harus independen, kritis, dan mempertanyakan informasi yang ia dapat. Hampir semua perusahaan komplain ketidakprofesionalan pemuda. Kita harus mendidik karakter-karakter yang berguna di dunia profesional seperti tepat waktu, menghargai atasan, kerjasama, dan lain-lain.

Intoleransi terjadi di mana-mana. Di negeri yang begitu beragam seperti Indonesia,

perasaan kesamaan identitas harus dibangun. Konsep pembangunan karakter harus diterjemahkan ke dalam konten yang bisa dimengerti millennial. Tidak bisa hanya baca buku atau mendengarkan seseorang bicara. Itu harus tercermin dalam kegiatan. Orang tua dan masyarakat tidak boleh diabaikan. Pendidikan karakter harus terjadi juga di luar sekolah karena murid hanya menghabiskan beberapa jam di sekolah, sisanya di luar.

Deregulasi dan Debirokratisasi.

Beban administratif pengajar sangat besar. 30-40% waktu dosen dan guru habis

untuk itu. Dampaknya tidak efektif ke pembelajaran murid, harus disederhanakan. Yang penting dalam kurikulum bukan konten, tapi bagaimana konten tersebut diajarkan di dalam kelas. Apakah siswa dapat berpartisipasi dalam proses belajar mengajar? Kita harus menyederhanakan organisasi di mana kita berkoordinasi dengan unit-unit pendidikan. Selama ini guru dan dosen mengeluh banyak instansi yang harus mereka hubungi untuk akreditasi, sertfikasi, dan lain-lain.

 

Baca Juga :