Revolusi Rusia

Revolusi Rusia

Revolusi Rusia

Revolusi Rusia

Pada permulaan abad ke-19, keadaan Rusia masih terbelakang dibandingkan Negara-negara Eropa disekitarnya. Masyarakat Rusia pada saat itu terbagi menjadi 2 golongan, yakni tuan tanah (bangsawan) & petani (rakyat jelata). Pada saat itu adalah negara bersifat agraris. Sebagian besar penduduknya merupakan petani miskin yang wajib tunduk kepada tuan tanah, bahkan menjadi budak dari tuan tanah. Status petani sebagai budak tuan tanah ini diatur dalam Undang-Undang Perbudakan Rusia yang disahkan oleh Tsar Alexis I pada 1646. Perbudakan dihapuskan pada 1861 dengan dikeluarkannya Undang-Undang Emansipasi (Emancipation Edict) oleh Tsar Alexander II.

Isi undang-undang;

  1. Perbudakan dihapuskan.
  2. Petani bekas budak mendapat tanah sebagai miliknya.
  3. Negara membayar uang kerugian kepada tuan-tuan tanah pemilik budak.
Meski telah dikeluarkan undang-undang itu, kondisi kehidupan petani belum juga mengalami kemajuan, hal ini nampaknya disebabkan oleh kepala mir (kepala desa) yang lama kelamaan bertindak seperti tuan tanah & memperkaya diri sendiri. Pada 1906 (masa pemerintahan Tsar Nicholas II), sistem mir dihapuskan oleh Menteri Stolypin. Tanah diberikan kepada pemilik sehingga dari pekerjaannya seorang petani dapat memperoleh hasil.
Menjelang terjadinya revolusi, muncul 2 aliran kaum terpelajar di Rusia, yakni aliran Slavia & aliran Barat. Aliran Slavia ingin membangun Rusia atas dasar kultur Slavia di mana negara dianggap sebagai badan moral. Aliran ini kemudian menjadi pendekar paham autokrasi, ortodoks, nasionalisme & memunculkan gerakan Pan Slavisme. Adapun aliran Barat ingin membangun Rusia berdasarkan konsepsi Barat di mana negara dianggap sebagai badan politik belaka yang digunakan untuk mencapai kesejahteraan rakyat. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/tabel-sistem-periodik-unsur-kimia-dan-gambar-hd/)
 

Latar belakang Revolusi Rusia

Sejak kekalahannya dalam perang melawan Jepang pada 1905, bayangan revolusi selalu tampak di Rusia. Berbagai gerakan rakyat menentang pemerintah ditindas dengan kekerasan senjata. Gerakan tersebut bersifat sporadis & seberapa pun usaha pemerintah untuk menindasnya, gerakan-gerakan serupa selalu muncul. Akhirnya, revolusi sungguh-sungguh terjadi di tengah Perang Dunia ketika Rusia mengalami kekalahan-kekalahan besar.

Sebab-sebab terjadinya revolusi;

  1. Pemerintahan Tsar Nicholas II yang reaksioner. Ketika negara-negara lain mulai mengakui hak-hak politik bagi warga negaranya, Tsar Nicholas II tidak ingin melakukan hal yang sama. Ia memang mengizinkan dibentuknya Duma (daerah perwakilan rakyat Rusia), namun keberadaannya hanya sandiwara belaka. Pemilihan anggota Duma dilakukan dengan pura-pura karena pada praktiknya, anggota Duma adalah orang-orang yang propemerintahan Tsar. Hasil-hasil rapat & rekomendasi Duma kepada Tsar tidak pernah dihiraukan.
  2. Susunan pemerintahan Tsar yang buruk. Pemerintahan pada masa Tsar Nicholas II tidak disusun secara rasional, melainkan atas dasar favoritisme. Tsar tidak memilih orang-orang yang cakap untuk pemerintahannya, orang-orang yang dipilihnya untuk jabatan-jabatan pemerintahan hanyalah orang-orang yang disukainya. Dalam hal ini, Nicholas II sangat dipengaruhi oleh istrinya, Tsarrina Alexandra. Alexandra sendiri sangat dipengaruhi oleh seorang biarawan yang menyebut dirinya sebagai utusan Tuhan, Grigori Rasputin. Alexandra & Rasputin adalah orang-orang yang sangat kolot & benci terhadap segala macam paham baru.
  3. Perbedaan sosial yang mencolok mata Kondisi kehidupan antara kedua golongan masyarakat di Rusia pada masa itu sangat jauh perbedaannya. Tsar & para bangsawan hidup mewah & kaya raya, sementara rakyat, terutama petani & buruh, sangat miskin & sengsara. Bangsawan juga memiliki berbagai macam hak yang tidak dimiliki rakyat, bahkan banyak hak rakyat yang diabaikan. Sekalipun perbudakan telah dihapuskan, para bangsawan tetap memperlakukan rakyat biasa seperti budak dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Persoalan tanah. Perubahan kebijakan agraria oleh Menteri Stolypin pada 1906 hanya menghasilkan perubahan tanah-tanah mir menjadi milik perseorangan anggota mir. Di luar mir, masih banyak tanah berukuran luas yang menjadi milik para tuan tanah, baik bangsawan maupun para kulak (petani-petani besar). Tanah-tanah ini dikerjakan oleh para petani kecil (buruh tani). Para buruh tani ini lalu berusaha menuntut tanah yang seharusnya menjadi miliknya.
  5. Adanya aliran-aliran yang menentang Tsar Dalam revolusi pada 1905, aliran-aliran yang menentang Tsar dapat ditindas, tetapi tidak lenyap. Mereka melakukan gerakan bawah tanah & mengumpulkan kekuatan sambil menunggu kesempatan untuk kembali muncul. Aliran-aliran tersebut sebagai berikut. 1) Kaum liberal yang disebut Kadet (Konstitusional Demokrat). Aliran ini menghendaki Rusia menjadi kerajaan yang berundang-undang dasar. 2) Kaum sosialis menghendaki susunan masyarakat yang sosialis serta pemerintahan yang modern & demokratis. Kaum sosialis merupakan anasir yang revolusioner & terbagi lagi atas dua aliran: Mensheviks (moderat / sosial demokrat) & Bolsheviks (radikal, kemudian berkembang menjadi partai komunis). Golongan Mensheviks dipimpin oleh Georgi Plekhanou yang kemudian digantikan oleh Kerensky. Adapun golongan Bolsheviks dipimpin oleh Lenin & Trotsky.
  6. Kekalahan perang. Ketika melibatkan diri dalam Perang Dunia I, sebenarnya Rusia tidak mempunyai tujuan perang yang tertentu. Rusia ikut perang karena terikat & terseret oleh perjanjian-perjanjiannya dengan negara-negara lain, terutama yang tergabung dalam Triple Entente. Keikutsertaan Rusia dalam Perang Dunia I mendapat sambutan dingin dari rakyatnya. Peperangan yang tidak didukung oleh rakyat tentu menghasilkan kekalahan. Kekalahan-kekalahan besar Rusia (pertempuran di Tannenberg & di sekitar danau-danau wilayah Masuri) semakin mengecewakan hati & melenyapkan kepercayaan rakyat kepada Tsar. Rakyat mulai jemu pada peperangan & menginginkan kedamaian.
  7. Ancaman bahaya kelaparan. Lima belas juta warga Rusia dimobilisasi untuk perang. Kesejahteraan mereka harus dijamin penuh oleh negara. Sementara, banyaknya orang yang dikirim ke medan perang berakibat kurangnya tenaga kerja, baik dalam bidang industri maupun pertanian. Macetnya industri & pertanian ini menimbulkan bahaya kelaparan sebab kurangnya bahan makanan. Perekonomian negara pun menjadi sangat kacau.