siapa itu iskandar alisjahbana

siapa itu iskandar alisjahbana

siapa itu iskandar alisjahbana

siapa itu iskandar alisjahbana

Pertama kali mendengar namanya, saya merasa familiar, tanpa tahu lebih jauh selain namanya saja. Sekarang, saya hanya bisa merasa kagum, apalagi setelah mengetahui beragam prestasi yang telah dicapainya. Lalu, siapa sebenarnya Iskandar Alisjahbana? Hal apa saja yang sudah dilakukan beliau? Penghargaan apa saja yang pernah diraih oleh beliau? Dan tentunya masih banyak hal lainnya, yang bisa dibahas dari orang yang disebut sebagai Bapak Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa ini.

Prof.Dr.Ing.Iskandar Alisjahbana dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 20 Oktober 1931. Iskandar yang berkulit kuning langsat dan berhidung mancung ini telah kehilangan ibu (Raden Ajeng Rohani Daha) ketika berusia 4 tahun. Ayahnya, Sutan Takdir Alisjahbana, kemudian menikah lagi, dan total ia memiliki sembilan saudara. Seorang adiknya dari satu ibu, Sofjan Alisjahbana, memimpin Femina Group.

Beliau meraih gelar Sarjana Muda dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1954. Kemudian, meraih gelar diploma ingenieur (Dipl.Ing.) dari Sekolah Tinggi Teknik Muenchen (Technische Hochschule Muenchen), Jerman Barat (1956) dan gelar Doktor ingenieur dari Sekolah Tinggi Teknik Damstadt (Technische Hochschule Darmmstadt) di Jerman pada 1960.

Kiprahnya dalam bidang telekomunikasi negeri ini dimulai setelah lulus sebagai Sarjana Muda pada 1951 dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang kemudian menjadi ITB Departemen Elektronik. Studinya berlanjut ke Electrical Engineering Department, TH Muenchen, Jerman dan jurusan yang sama di TH Damstadt, Jerman hingga meraih gelar Diploma Engineering dan Doktor Engineering. Semua itu ditempuhnya selama kurun 1954-1960.

Di Jerman, Iskandar Alisjahbana sempat menjadi research engineer di Pintsch Electro Lab, Munich dan Central Lab of Siemens & Halske, Munich. Putra sulung pujangga Sutan Takdir Alisjahbana itu kemudian menjadi dosen elektronik ITB sejak 1960 hingga pensiun 1996.

Selama di ITB, beliau memegang sejumlah jabatan. Pada 1964-1966, dia menjadi Ketua Laboratorium Komunikasi Radio Departemen Teknik Elektro ITB. Pada 1965-1967, menjadi Ketua Badan Riset Telekomunikasi Indonesia. Iskandar menyandang Ketua Jurusan Eletronik ITB sepanjang 1966-1968. Pada 1966, dia menjadi Guru Besar Teknik Elektro ITB untuk bidang telekomunikasi.

Selain berkiprah pada hal keilmuan, Iskandar juga merintis PT Radio Frequency Communication dan menjadi Presiden Direktur antara 1970-1974. Pada 1972, dia menjadi senior entrepreunership di East West Centre, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Selepas jabatan di perusahaannya habis, Iskandar diangkat menjadi Dekan Fakultas Teknologi ITB pada 1972-1974. Setelah itu dia menjadi Wakil Ketua Lembaga Penerbangan Nasional selama 1974-1976. Saat itu, ia mencetuskan pembuatan satelit Palapa dan mewakili Indonesia dalam UN Panel Meeting on Satelite di Tokyo, Jepang.

Iskandar pernah menjabat sebagai Rektor ITB pada 1976-1978. Mulai 1992 hingga akhir hayatnya, dia tercatat sebagai pendiri dan Komisaris PT Pasifik Satelit Nusantara. Jabatan terakhirnya adalah Ketua Majelis Wali Amanat ITB 2001-2004.

Selain mencetuskan satelit, Iskandar juga berjasa menggagas tele blackboard, yaitu sebuah teknologi yang bisa merekam tulisan tangan di atas papan elektronik. Surat itu bisa dikirim ke lokasi yang jauh melalui gelombang radio atau televisi.

Sepanjang hidupnya, Iskandar Alisjahbana mendapat empat penghargaan penting dari pemerintah. Yaitu, tanda kehormatan Satya Lencana Karya Satya 1998 dari Presiden RI, Bintang Mahaputra Utama 1999 dari Presiden RI, Penghargaan Sarwono Prowirohardjo 207 sebagai pakar teknologi dari LIPI, dan anugerah Sewaka Winayaroha 2007 dari Dirjen DIKTI.

Pendarahan di bagian perut menyebabkan beliau dirawat di RS Hasan Sadikin pada hari Selasa pagi, 16 Desember 2008, sebelum akhirnya dipindahkan ke RS Santo Boromeus Bandung. Setelah perawatan selama 21 jam, suami Prof. Anna Alisjahbana (seorang dokter spesialis anak-anak) itu meninggal. Beliau wafat pada usia 77 tahun dan dimakamkan pada hari Rabu, 17 Desember 2008, di samping makam ayahnya, Sutan Takdir Alisjahbana, di desa Tugu, Bogor.

Selain seorang istri, pakar elektronik ini meninggalkan tiga orang anak (Andi Alisjahbana, Rian Alisjahbana, dan Bachti Alisjahbana) dan enam orang cucu. Menurut Andi, putra sulung Iskandar, ayahandanya sosok yang sangat menggemari inovasi teknologi. Sangat percaya, inovasi teknologi mampu berkontribusi pada peningkatan ekonomi dan daya saing bangsa. Para sahabat menyebutnya seorang sosok visioner yang selalu menginginkan entrepreneurship dan teknologi modern.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/lumosity-apk/